oleh

Pembangunan Jembatan Sebawang Sisi Bailey Tertunda, DPUPRKP Tana Tidung Jelaskan Alasan dan Material Geotek yang Disangka Terpal

TANA TIDUNG – Kabid Bina Marga DPUPRKP Tana Tidung, Punjul Sidi Waluyo, menyampaikan bahwa sebenarnya tahun ini dilanjutkan pembangunan jembatan Sebawang sisi bailey.
‎“Kalau berdasarkan rencana yang tersusun, di sebelah sisi jembatan Bailey itu memang sudah ada penganggaran. Tahun ini di APBD 2025 disiapkan sekitar Rp15 miliar,” jelas Punjul.

‎Namun, rencana pengerjaan itu terpaksa tertunda. Punjul menyebutkan bahwa terjadi penyesuaian anggaran secara nasional melalui kebijakan efisiensi, sehingga berdampak pada proses pengadaan di daerah.
‎“Karena efisiensi anggaran berdasarkan Inpres Nomor 1 Tahun 2025 dan adanya surat edaran bersama dari Kemendagri, Kementerian Keuangan, dan kepala LKPP, beberapa pengadaan barang dan jasa tertunda. Proses lelang baru disetujuii dilakukan
‎di bulan Juli,” ungkapnya.

Dengan waktu yang tersisa pada tahun berjalan, pemerintah daerah menilai pembangunan jembatan tidak mungkin selesai jika dipaksakan dilelang. Karena itu, pengerjaan untuk sementara dipending agar tidak menimbulkan risiko proyek terhenti di tengah jalan.

Punjul juga meluruskan isu mengenai material yang dipasang di bagian lereng jembatan. Banyak warga mengira material yang digunakan adalah terpal, padahal material tersebut adalah geotek, lapisan khusus untuk penguatan jalan dan tanah.
‎“Itu bukan terpal, itu geotek. Memang sekilas seperti terpal, tapi fungsinya beda. Geotek dipakai untuk penanganan timbunan, khususnya tanah gambut atau rawa. Ini untuk mencegah penurunan dan abrasi kalau dibiarkan terus kena hujan,” tegasnya.

‎Menurutnya, pemasangan geotek ini adalah penanganan sementara agar kondisi timbunan tidak semakin rusak sebelum pekerjaan lanjutan dapat dilaksanakan.

‎Punjul menyebut tindakan ini sebagai upaya meminimalkan kerusakan selama proses penundaan berlangsung. Ia mengakui bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) juga menjadi tantangan. Efisiensi anggaran tahap kedua membuat APBD Tana Tidung turun signifikan.
‎“APBD kita terjun bebas, dari sekitar Rp1,1 triliun menjadi hanya sekitar Rp700 miliar. Ini tentu berdampak pada program pembangunan yang harus kita sesuaikan,” ujarnya.

‎Meski demikian, ia menegaskan bahwa proyek penanganan jembatan Sebawang tidak dibatalkan, hanya menunggu kondisi yang memungkinkan.
‎“Ini bukan berhenti. Kita tetap cari skema. Mudah-mudahan tahun depan bisa lanjut. Kita upayakan jalan terus, menyesuaikan kemampuan anggaran,” tutupnya. (rdk)