TANA TIDUNG – Pemerintah Kabupaten Tana Tidung resmi meluncurkan program Sekolah Unggul Masuk Desa (SUMD) sebagai model peningkatan mutu pendidikan berbasis desa tanpa sistem asrama. Program ini dirancang menjadi pusat praktik baik pembelajaran, manajemen sekolah, serta penguatan karakter yang dapat diimbaskan ke sekolah lain di sekitarnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tana Tidung, Arman Jauhari, menjelaskan bahwa SUMD hadir sebagai jawaban atas tantangan pemerataan kualitas pendidikan, khususnya di wilayah desa.
“SUMD bukan sekolah elite dengan sistem asrama, tetapi sekolah reguler yang diperkuat kualitas pembelajaran, tata kelola, dan karakter peserta didik, lalu menjadi rujukan bagi sekolah lain,” ujar Arman.
Sebagai tahap awal, Pemkab Tana Tidung menetapkan 10 sekolah pilot project, terdiri dari 5 SD dan 5 SMP. Penetapan tersebut tertuang dalam SK Bupati Tana Tidung Nomor 100.3.3.2/106/KI-1/2025.
Penunjukan sekolah percontohan dilakukan berdasarkan sejumlah indikator utama, antara lain kesiapan sumber daya manusia (guru dan kepala sekolah), ketersediaan infrastruktur dasar, dukungan masyarakat dan pemerintah desa, serta potensi pengimbasan mutu pendidikan ke sekolah sekitar.
SUMD sendiri resmi diluncurkan pada 17 Desember 2025. Penerapan program langsung berjalan pasca launching dan akan dilanjutkan dengan pendampingan berkelanjutan pada periode 2026 hingga 2028.
“Pendampingan ini penting agar transformasi sekolah berjalan konsisten dan berkelanjutan,” kata Arman.
Dalam pelaksanaannya, setiap sekolah SUMD wajib menjalani evaluasi berkala. Evaluasi dilakukan melalui monitoring kinerja sekolah, review proses pembelajaran dan manajemen, serta pelaporan digital melalui Learning Development Centre (LDC). Proses pendampingan dan evaluasi ini difasilitasi bersama Universitas Negeri Malang (UM).
Terkait jam belajar, Arman menegaskan bahwa SUMD tidak menerapkan full day school. Jam belajar tetap mengacu pada regulasi nasional, namun diperkuat melalui peningkatan kualitas pembelajaran, proyek penguatan karakter, serta literasi, tanpa menambah beban waktu belajar siswa.
Selain itu, SUMD juga didukung oleh 40 tenaga pendidik terpilih yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang. Guru-guru tersebut dipilih karena dinilai memiliki potensi, komitmen, dan kesiapan untuk menjadi penggerak peningkatan mutu pembelajaran di sekolah masing-masing.
“Mereka diharapkan menjadi motor perubahan di sekolah SUMD dan menjadi agen pengimbasan kualitas pendidikan di Tana Tidung,” pungkas Arman.(rdk)
SUMD Jadi Model Sekolah Unggul Berbasis Desa











